Islamic Widget



Abdullah bin Umar radhiyallohu 'anhu berkata, "Manusia akan senantiasa berada di jalan yang lurus selama mereka mengikuti jejak Nabi shalallahu alayhi wasallam". (HR. Baihaqi, Miftahul Jannah no.197)

Isnin, 11 November 2013

PENJELASAN HADITH KE 33 DALAM HADITH ARBAIN-IMAM NAWAWI



 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
 (لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ لاَدَّعَي رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ وَلَكِن الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي  وَالْيَمِيْنُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ)
حديث حسن رواه البيهقي وغيره هكذا, وبعضه في الصحيحين


  • Dari Ibnu Abbas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika semua orang diberikan (apa yang mereka dakwakan) hanya dengan dakwaan mereka, maka akan banyak orang yang mendakwakan harta dan jiwa orang lain. Tapi yang mendakwa harus mendatangkan bukti dan terdakwa yang mengingkari harus bersumpah.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dan yang lain demikian, dan sebahagiannya di Shahihain)

Hadits Ibnu Abbas ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (4552) dan Muslim (1711), tapi dalam riwayat keduanya tidak ada lafazh, “Tapi yang mendakwa harus mendatangkan bukti.” Namun kalimat ini telah shahih dalam hadits Al-Asy’ats bin Qais riwayat Al-Bukhari dan Muslim dalam kisah Al-Asy’ats dengan anak pamannya. Berkata Al-Asy’ats: Terjadi perselisihan antara aku dengan seseorang tentang sebuah sumur. Kamipun mengangkat permasalahan tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Datangkanlah dua saksi atau dia akan bersumpah.” Akupun berkata: “Kalau begitu dia akan dengan mudah bersumpah dan tidak peduli. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: “Barang siapa yang bersumpah untuk mendapatkan harta dan ia berdosa di dalamnya, ia akan bertemu Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya. Maka Allah menurunkan ayat yang menegaskan hal tersebut, kemudian beliau membaca

إِنَّ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ بِعَهْدِ اللهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيْلاً أُوْلَئِكَ لاَ خَلاَقَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ وَلاَ يَنْظُرُ
 إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.” (QS. Ali Imran [3]: 77)
  • Dan diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab telah menulis kepada Abu Musa: Yang mendakwa harus mendatangkan bukti dan terdakwa yang mengingkari harus bersumpah. Zaid bin Tsabit juga telah menghukumi perselisihan antara Umar dan Ubay bin Ka’ab dengan cara tersebut, dan keduanya tidak mengingkarinya. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 373)

Ibnul Mundzir berkata: Para ulama berijma’ (sepakat) bahwa yang mendakwa harus mendatangkan bukti dan terdakwa yang mengingkari harus bersumpah. Dan arti: “yang mendakwa harus mendatangkan bukti” adalah bahwa pendakwa berhak atas apa yang ia dakwakan dengan bukti karena hal tersebut wajib atasnya. Dan arti “terdakwa yang mengingkari harus bersumpah” adalah bahwa terdakwa bebas dari dakwaan dengan sumpahnya karena sumpah tersebut wajib atasnya dalam keadaan apapun.
  • Hadits ini adalah pokok dalam bab peradilan. Ibnu Daqiq berkata: “Dan hadits ini adalah salah satu pokok hukum dan referensi utama dalam pertentangan dan perselisihan. Konsekuensinya seseorang tidak boleh divonis hanya dengan dakwaannya.” (Syarah Arba’in, Ibnu Daqiq, 117).
  • Hadits ini menunjukkan bahwa jika vonis diberikan untuk pendakwa hanya dengan dakwaannya, akan banyak orang yang memanfaatkannya untuk merebut harta orang lain dan mengancam jiwa dan kehormatannya. Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa pendakwa harus mendatangkan bayyinah atau bukti, yaitu jika terdakwa mungkir dan tidak mengakui dakwaan. Adapun jika terdakwa mengakui dakwaan, masalahnya selesai dan pengakuan ini disebut iqrar. Pendakwa tidak perlu lagi mendatangkan bukti.

Bayyinah adalah segala sesuatu yang menjelaskan dan menunjukkan kebenaran baik berupa saksi, tanda-tanda (indikasi) dsb. Jika pendakwa mendatangkan bayyinah, ia bisa mendapatkan hak yang ia dakwakan. Jika tidak ada bayyinah, si terdakwa harus bersumpah mengingkari dakwaan. Jika ia melakukannya, ia bebas dari dakwaan tersebut. Jika ia menolak bersumpah, ia divonis dengan penolakan tersebut dan pendakwa berhak mendapat hak yang ia dakwakan. Penolakan ini disebut nukul.

Kaidah tersebut adalah kaidah umum. Ada beberapa masalah yang dikecualikan dari kaidah ini, sehingga pendakwa tidak perlu mendatangkan bukti atas dakwaannya. Masalah-masalah tersebut antara lain:
  1. Anak yang mengaku baligh dengan bermimpi basah
  2. Orang yang dititipi mengaku bahwa barang titipannya rusak atau dicuri orang.

Bagaimana Menentukan Mudda’i (Pendakwa) Dan Mudda’a ‘Alaih (Terdakwa) ?
  • Masalah ini adalah tugas hakim/qadhi yang paling penting. Ibnu Farhun mengatakan bahwa ilmu qadha berporos pada pembedaan mudda’a dari mudda’a ‘alaih. Jika qadhi sudah bisa menentukan mudda’i dan mudda’a ‘alaih, alur peradilan akan menjadi mudah. Sa’id bin Al-Musayyib mengatakan: “Siapa yang telah mengetahui mudda’a dan mudda’a ‘alaih tidak akan kesulitan menghukumi antara keduanya (Al-Muqaddimat Al-Mumahhidat, 2/731).

Tapi pekerjaan ini tidaklah mudah. Jelas bahwa mendatangkan bukti lebih berat daripada bersumpah. Tugas mudda’i lebih berat dari tugas mudda’a ‘alaih. Jika qadhi salah menentukan mudda’i dan mudda’a ‘alaih, ia akan membebani mudda’a ‘alaih dengan sesuatu yang lebih berat dari yang seharusnya ia pikul, dan meringankan beban mudda’i.

Ada dua pendapat ulama (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 374) dalam menentukan mudda’i dan muddda’a ‘alaih yaitu:
  1. Bahwa mudda’i adalah orang yang jika ingin meninggalkan khushumah (perselisihan / kasus) maka dibolehkan dan tidak dipaksa untuk meneruskannya. Sedangkan mudda’a ‘alaih adalah orang yang jika ingin meninggalkan khushumah maka ia akan dipaksa untuk meneruskannya. Pendapat ini adalah pilihan sebagian besar ulama mazhab Hanafi dan Hanbali. Jika Bakr mendakwakan bahwa Zaid berhutang kepadanya, maka Bakr adalah mudda’i karena ia bisa saja dan boleh meninggalkan dakwaannya sehingga khushumah dianggap selesai. Adapun Zaid, ia menjadi mudda’a ‘alaih karena ia tidak bisa meninggalkan khushumah begitu saja, dan dipaksa untuk menyelesaikannya.
  2. Bahwa mudda’a ‘alaih adalah orang yang dikuatkan oleh ma’hud (adat dan kebiasaan) atau ashl (hukum dasar), sedangkan mudda’i adalah orang yang menyelisihi ma’hud atau ashl. Misalnya ada dua orang yang berebut mesin jahit. Salah satunya penjahit dan yang lain tukang kayu. Maka si tukang jahit adalah mudda’a ‘alaih karena ma’hud menguatkannya. Biasanya mesin jahit adalah milik tukang jahit. Si tukang kayu menjadi mudda’i dan harus mendatangkan bukti bahwa mesin jahit itu adalah miliknya. Contoh lain: Ada kaidah yang menyatakan: Al-Ashlu baraatudz dzimmah”. Pada dasarnya, setiap orang bebas dari tanggungan. Jika Daud mendakwakan bahwa Sulaiman berhutang padanya, Sulaiman menjadi mudda’a ‘alaih karena ia dikuatkan oleh ashl yaitu kaidah baraatudz dzimmah, yaitu bahwa sebelum terjadi sesuatu, semua bebas dari tanggungan. Daud menjadi mudda’i dan harus mendatangkan bukti.
Masing-masing dari kedua pendapat ini tidak bisa secara mutlak diterapkan dalam setiap kasus. Setiap kasus memiliki cara penentuan mudda’i dan mudda’a ‘alaih sendiri-sendiri. Hakim harus pintar-pintar memilih cara mana yang sesuai untuk kasus yang sedang dihadapinya. (Lihat: Tabshiratul Hukkam, 1/106).

Tidak selamanya sumpah hanya diperuntukkan mudda’a ‘alaih. Kadang-kadang sumpah diminta dari mudda’i seperti dalam beberapa masalah berikut:
  1. Qasamah. Dalam shahih Bukhari dan Muslim dikisahkan bahwa Huwaishah dan Muhayyishah menuntut qishash atas kematian Abdullah bin Sahl yang meninggal di perkampungan Khaibar. Mereka menuduh Yahudi Khaibar telah membunuhnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta dari mereka untuk mendatangkan dua orang saksi, mereka menjawab: “Bagaimana mana kami bisa mendatangkan dua saksi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Hendaknya ada lima puluh orang dari kalian yang bersumpah bahwa seorang dari mereka telah membunuhnya, kemudian ia akan di tangkap (untuk di qishash)”.
  2. Menghukumi dengan saksi dan sumpah. Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghukumi dengan sumpah dan saksi. Adapun lafadz: laisa laka illa dzalika dalam hadits syaahidaaka aw yamiinuhu, hanya diriwayatkan oleh Manshur bin Abi Wail dan ia menyelesihi semua perawi yang lain dalam hal ini. Adapun sabda Nabi: “Dan terdakwa yang mengingkari harus bersumpah” maksudnya adalah sumpah yang menyelesaikan perselisihan ketika tidak ada bukti dari mudda’i. Adapun sumpah yang menetapkan suatu hak bersama saksi, maka ini adalah sumpah jenis lain yang tidak dimaksudkan oleh hadits. (Lihat: Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 376)
Dalam dua masalah di atas kita dapatkan bahwa kesempatan bersumpah diberikan kepada pihak yang lebih kuat di antara dua orang yang berselisih. Dalam qasamah, ketika posisi wali Abdullah bin Sahl lebih kuat dengan lauts (indikasi), kesempatan sumpah diberikan kepada mereka. Sedang dalam masalah saksi dan sumpah, ketika mudda’i bisa menghadirkan satu saksi, posisinya menjadi kuat dan kesempatan bersumpah diberikan kepadanya. (Lihat: Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 376).

Sebagaimana pendakwa harus membuktikan dakwaannya dalam urusan dunia, ia harus mendatangkan bukti atas dakwaannya dalam urusan-urusan ukhrawi. Barang siapa yang mengaku cinta Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dianggap sungguh-sungguh dakwaannya jika membuktikan dakwaan tersebut dengan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya: “Katakanlah (wahai Muhammad): jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran ayat 31).
  • Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat yang mulia ini menjadi hakim atas setiap orang yang mengaku mencintai Allah padahal tidak di atas jalan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pada hakikatnya bohong sampai mengikuti syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan agama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua perkataan dan perbuatannya, seperti telah tetap dalam Ash Shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata:

« مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ »

“Barang siapa melakukan sebuah amalan yang tidak berdasarkan ajaran kami, maka amalan itu ditolak.”.
  • Karenanya Allah ta’ala berfirman: jika kalian mencitai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian”. Artinya terwujud untuk kalian sesuatu yang lebih besar dari yang kalian cari (cinta kalian kepada Allah), yaitu kecintaan Allah kepada kalian, dan ini lebih agung dari yang pertama. Sebagian ulama bijak mengatakan: “Yang penting bukanlah engkau mencintai, tapi yang penting engkau dicintai”. Dan Al-Hasan Al- Bashriy dan salaf yang lain berkata: “Suatu kaum mengaku bahwa mereka mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/367).

Beberapa faedah yang terkandung (Lihat: Fathul Qawiyyil Matin, 116):
  • Kesempurnaan syariat Islam yang melindungi harta dan jiwa manusia.
  • Penjelasan dari Nabi tentang alur peradilan dan cara menyelesaikan perselisihan.
  • Jika terdakwa tidak mengakui dakwaan, pendakwa harus mendatangkan bukti.
  • Jika tak ada bukti, terdakwa disumpah. Jika ia mau bersumpah, bebaslah ia dari dakwaan. Jika tidak, ia divonis dengan dakwaan tersebut.

***

Penulis: Ustadz Anas Burhanuddin, Lc.

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tuntunan-ketika-bersengketa.html

HIJRAH: KEWAJIPAN BERTERUSAN

Ustaz Idris bin Sulaiman
Hijrah adalah ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Umat Islam sentiasa dituntut supaya berhijrah. Jika mereka tinggal di negara kafir, mereka dituntut berhijrah ke negara Islam. Dalam negara Islam, mereka disuruh berhijrah jika tempat tinggal mereka tidak Islamik, banyak maksiat, dosa, perkara yang tidak menepati Syarak, melalaikan dari mengingati Allah, dan seumpamanya.

Disebabkan hijrah adalah ibadah, definasinya perlu dikembalikan kepada Syarak. Ini kerana akibat tidak faham maksud Hijrah, ramai menggunakan istilah ini pada tempat yang salah. Pernah orang mengatakan si fulan berhijrah ke Amerika, si fulan berhijrah ke London, negeri-negeri kafir. Ini adalah keliru.

Perlu jelas bahawa maksud hijrah adalah dari negeri kafir ke negeri Islam, atau dari yang tidak baik kepada yang baik. Dalilnya adalah perbuatan Rasulullah SAW sendiri yang berhijrah dari Makkah ke Madinah. Bahkan perkataan hijrah sinonim dengan peristiwa hijrah Baginda. Ia juga boleh diambil dari kisah pembunuh yang membunuh 99 orang lalu ingin bertaubat. Rasulullah SAW menceritakan,

“Zaman sebelum kalian ada seorang yang membunuh 99 orang, dia ingin bertaubat lalu bertanya di mana orang yang paling alim di muka bumi? Dia pun ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah. Dia mendatangi ahli ibadah itu dan berkata, ‘Aku telah membunuh 99 orang, adakah boleh aku bertaubat?’ Ahli ibadah menjawab, ‘Tidak mungkin.’ Akibat marah dengan jawapan itu, dia membunuh ahli ibadah itu dan genaplah 100 orang.

Dia ingin bertaubat lagi dan bertanya di mana orang yang paling alim? Dia ditunjukkan seorang alim (orang berilmu). Dia berkata, ‘Aku telah membunuh 100 orang, mungkinkah bagiku taubat?’ Orang alim menjawab, ‘Ya. Siapa yang menghalang seseorang dari taubat? Pergilah ke tempat ini kerana di sana terdapat manusia yang menyembah Allah. Sembahlah Allah bersama mereka dan jangan kamu kembali ke tempatmu kerana  tempat itu adalah tempat yang buruk.’

Lelaki ini berhijrah. Ketika di tengah perjalanan, sampailah ajalnya. Terjadi perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab (yang ingin mengambil nyawa). Malaikat rahmat berkata, ‘Orang ini datang untuk bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah’. Malaikat azab berkata, ‘Orang ini belum melakukan kebaikan sedikit pun.’

Lalu datang malaikat lain dalam rupa manusia, mereka sepakat menjadikan malaikat ini sebagai pemutus. Malaikat ini berkata, ‘Ukurlah jarak dua tempat tersebut. Jika jaraknya dekat, dia yang berhak atas orang ini.’ Lalu mereka dapati orang ini lebih dekat dengan tempat yang dia tuju. Maka rohnya dicabut oleh Malaikat Rahmat.” (Sahih Al-Bukhari & Muslim, turut dimuatkan dalam Riyadhus Salihin Imam Al-Nawawi)

Hadis ini menjadi tuntutan supaya berhijrah ke persekitaran yang baik. Ini kerana persekitaran mempengaruhi jiwa. Orang alim itu tahu bahawa kalau pelaku maksiat itu terus tinggal di tempatnya, di mana dia telah membunuh 99 orang tanpa ada yang menghalangnya, dia akan melakukan lagi jika terus di situ. Oleh itu dia menyuruh supaya berhijrah dan pergi ke negeri yang penghuninya baik.

Ahli maksiat itu juga membuktikan bahawa dia benar-benar ingin taubat dengan mengikuti saranan orang alim. Walaupun dia tidak sampai ke tempat dituju, dan belum melakukan kebaikan sedikit pun, usahanya diambil kira dan dia termasuk orang yang mendapat rahmat.

Maka tidak hairan mengapa kita disuruh tinggal di negara Islam dan keluar dari negara kafir. Tidak boleh orang Islam meninggalkan negara Islam mereka untuk ke negara kafir. Itu bukan hijrah, tetapi itu berpaling tadah.

Umat Islam disyariatkan hijrah ke Negara Islam untuk membantu negara dan saudara Islam yang lain demi memartabatkan Islam dan Umatnya. Ini kewajipan setiap Muslim bertepatan firman Allah, “Dan tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan dan jangan bersekongkol dalam dosa dan permusuhan.” (Al-Ma’idah: 2)

Allah SWT memberi amaran terhadap mereka yang enggan berhijrah dan tinggal di Negara Islam: “Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawa oleh malaikat sedang mereka telah menganiaya diri sendiri, mereka ditanya, “Apakah yang kamu lakukan untuk Agama kamu?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang yang ditindas di bumi.” Malaikat bertanya, “Tidakkah bumi Allah luas untuk kamu berhijrah dengan bebas di atasnya?” Orang-orang sedemikian, tempat akhir mereka ialah Neraka Jahanam, dan Neraka Jahanam adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Nisaa’:97)

Ayat ini merujuk kepada orang kafir yang masuk Islam di negara kafir di mana mereka dituntut supaya berhijrah ke Negara Islam sebagai bukti keimanan dan tanda mereka benar-benar meninggalkan kekufuran dan masuk Islam secara total rohani dan jasmani.

Adapun orang Islam yang berhijrah dari negara Islam ke negara kafir jelas itu lebih dilarang kerana bertentangan dengan pengertian Hijrah. Mereka bukan saja keluar dari negara Islam, bahkan mereka keluar lalu masuk ke negara kafir. Dikhuatiri perbuatan zahir mereka turut memberi kesan ke dalam jiwa mereka. Nau’zubillah.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku berlepas diri daripada setiap orang Islam yang menetap di kalangan orang-orang musyrikin (kafir)” (Sahih Abu Daud dan Tirmizi). Baginda juga bersabda, “Barangsiapa yang berdamping dengan orang musyrik dan tinggal bersamanya maka dia adalah sepertinya.” (Hasan, Abu Daud)

Oleh kerana Hijrah adalah ibadah, kayu ukur untuk menentukan ia benar atau salah adalah dua syarat; 1. Ikhlas (kerana Allah), 2. Ittiba’ (mengikut petunjuk Sunnah). Ibadah tidak cukup dengan niat, tetapi cara juga mestilah betul. Rasulullah menyuruh kita hijrah dari yang buruk kepada yang baik, maka tidak benar jika kita hijrah ke tempat yang buruk.

Perintah hijrah ini berterusan hingga hari Kiamat sebagaimana sabda Nabi SAW, “Tidak akan terhenti hijrah kecuali apabila pintu taubat tertutup; dan tidaklah pintu taubat tertutup kecuali apabila matahari naik dari barat.” (Sahih, Abu Daud)

TEGAKKAN NEGARA ISLAM BUKAN MATLAMAT HIJRAH NABI
Hijrah Nabi ke Madinah adalah kerana melaksanakan tanggungjawab sebagai Utusan Allah. Seperti Rasul yang lain, matlamat mereka tidak lebih dari mengajak manusia menyembah Allah, meninggalkan sembahan yang lain, dan mengajar cara ibadah. Sama sekali Baginda tidak diutus untuk mengajar membina bangunan, jalan raya atau seumpamanya.

Dalam konteks hijrah ke Madinah, menegakkan Negara Islam adalah wasilah untuk sampai kepada matlamat iaitu menyebarkan Islam dan menegakkan Tauhid. Dukacitanya, sebahagian masyarakat hari ini menjadikan wasilah sebagai matlamat. Apabila wasilah dijadikan matlamat, akhirnya matlamat sebenar diabaikan.

Ini dapat kita lihat pada parti-parti yang mendakwa Islam lalu berkecimpung dalam politik demokrasi untuk menegakkan Negara Islam. Akibat tidak mengikuti petunjuk Rasul, akhirnya mereka sendiri memerangi gerakan yang mengajak kepada Tauhid, membiarkan bidaah dan syirik berleluasa, bekerjasama dengan golongan yang memerangi tauhid dan menyamarata semua agama. Ini kerana matlamat sebenar telah dilupakan.

Maka tidak hairan mengapa ramai di kalangan Para Rasul tidak berkesempatan menegakkan Negara Islam. Adakah kita mengatakan mereka gagal dan berdosa kerana tidak melaksanakan kewajipan? Tidak, kerana matlamat dan kewajipan adalah menyebarkan dakwah. Kalau berkesempatan menegakkan Negara Islam, maka itu yang sepatutnya. Tetapi jika tidak ada kemampuan, itu tidak bererti kita gagal dalam dakwah.

Kita tidak nafikan bahawa mengubah keburukan kepada kebaikan, menukar apa yang tidak menepati Islam kepada yang menepati Islam memang dituntut. Namun adakah dengan cara menggulingkan kerajaan? Adakah dengan menyebut keburukan dan membangkitkan kemarahan rakyat?

Adakah ini hijrah yang dituntut? Jawapannya tidak. Sebaliknya ia adalah maksiat yang akan membawa kemusnahan. Itu sama sekali bukan hijrah, kerana itu bukan cara Rasulullah. Kaedah Usul menetapkan ‘menolak kemudaratan/kemusnahan lebih utama daripada mencapai kemaslahatan’. Ini kerana hukum Islam sentiasa melihat kepada natijah.

Maka orang yang ikhlas dan inginkan kebaikan untuk masyarakat Islam akan melakukannya dengan cara yang dituntut iaitu nasihat dan amar makruf secara baik, hikmah, dan tertutup kerana di situ ada manfaat dalam usaha hijrah dari suatu yang tidak baik kepada yang lebih baik.
Artikel ini disiarkan di akhbar pada Sabtu, 09 November 2013

Jumaat, 8 November 2013

FITRAH MANUSIA & LARANGAN MENYERUPAI ORANG KAFIR

Ustaz Idris bin Sulaiman
Bagaimana kamu mencintai Allah dan kamu memaksiatiNya?
Bagaimana kamu mencintai Allah dan kamu memaksiatiNya?
Seorang penyair berkata: “Engkau memaksiati Al-Ilah (Allah) dan engkau mendakwa mencintaiNya, Ini -demi Tuhanku- adalah perbandingan yang buruk, Kalau cintamu benar pasti engkau mentaatiNya, Sesungguhnya orang yang mencintai akan taat terhadap yang dicintai.”
Perbuatan sebahagian masyarakat Islam yang memanjangkan kuku, memanjangkan misai, mencukur janggutnya sebenarnya bercanggah dengan Syarak. Bahkan ia dianggap sebagai perbuatan yang jelik dan tidak dapat diterima oleh fitrah yang baik.
Syarak sentiasa menuntut kepada apa yang baik dan melarang yang tidak baik. Perbuatan meniru-niru orang kafir inilah yang menyebabkan sebahagian Umat Islam bukan sahaja menolak apa yang dituntut Agama, bahkan menolak apa yang dituntut oleh fitrah.
Islam menuntut umatnya menjaga fitrah seperti yang disebut dalam hadis Abu Hurairah, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Fitrah (manusia) ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting misai, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (Bukhari & Muslim)
Di dalam banyak hadis lain, Baginda SAW melarang orang Islam meniru orang kafir, antaranya sabda Nabi SAW, “Bukan tergolong dari kalangan kami siapa yang menyerupai selain kami (iaitu orang kafir).”(Hasan. Al-Tirmizi)
Nabi juga bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia tergolong daripada mereka.”(Sahih. Ahmad)
Apabila Nabi mengatakan dia tergolong daripada mereka, hukum dari perbuatan menyerupai orang kafir (dalam perkara yang khas dan menjadi identiti mereka) yang paling kurang adalah maksiat, kalau terselamat daripada jatuh dalam bid’ah ataupun kafir.
Sekiranya yang ditiru adalah urusan ibadah, ia boleh menyebabkan pelakunya jatuh kafir. Jika bukan ibadah, hukum minimumnya adalah maksiat.
Namun pada masa yang sama, kita mengetahui realiti bahawa sebahagian orang Islam pasti akan meniru orang kafir. Ini adalah Sunnatullah Al-Kauniyah (ketetapan takdir Allah dalam alam), bahawa orang Islam pasti akan meniru orang kafir sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah,
“Sesungguhnya kalian akan mengikuti orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun pasti kalian turut mengikutinya.” Kami (sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah yang diikuti itu Yahudi dan Nasrani?” Baginda menjawab, “Siapa lagi?” (Sahih Muslim)
Realiti yang berlaku pada hari ini jelas menunjukkan mukjizat Rasulullah. Apa yang disebutkan oleh Baginda 1400 tahun lepas, di mana pada masa itu tidak ada tasyabbuh (penyerupaan) kepada orang kafir kerana para Sahabat semua beriltizam dengan Sunnah Nabi, jauh sekali tasyabbuh orang kafir, tetapi pada hari ini apa yang disebutkan Baginda telah menjadi kenyataan.
Sebahagian besar orang-orang Islam dengan mudah bahkan ada yang bangga meniru dan terikut-ikut dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir Yahudi dan Nasrani.
MEMANJANGKAN MISAI DAN MENCUKUR JANGGUT
Antara contohnya adalah mereka memanjangkan misai dan mencukur janggut, atau mencukur kedua-duanya. Kedua-dua perbuatan itu salah, kerana bercanggah dengan hadis di mana Rasulullah mengatakan, “Selisihilah orang-orang Musyrikin, biarkanlah (peliharalah) janggut dan potonglah misai.”(Bukhari & Muslim)
Berdasarkan hadis-hadis yang dibawa di atas, Syariat telah mengajar kita bahawa ada rambut yang dituntut supaya kita mencukurnya (bulu kemaluan), ada yang dituntut supaya mengguntingnya (misai), ada yang dituntut supaya kita mencabutnya (bulu ketiak), dan ada yang dituntut supaya kita membiarkannya (janggut).
Dalam urusan janggut, dituntut supaya kita membiarkannya, memanjangkannya, melebatkannya. Adapun misai, dituntut supaya kita memotongnya (memendekkannya, bukan mencukur).
Kesalahan pertama mereka yang mencukur janggut atau misai adalah menyerupai orang kafir. Kedua, mereka menyerupai wanita di mana fitrah kejadian wanita adalah tidak berjanggut dan bermisai. Nabi SAW bersabda, “Allah melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki.” (Al-Bukhari)
Kesalahan ketiga, ia menukar ciptaan Allah tanpa kita sedar. Ini kerana Allah menciptakan lelaki dengan janggut dan misai secara sengaja. Buktinya ialah Allah menjadikan wanita tanpa janggut dan tanpa misai, sebaliknya Allah mencipta lelaki dengan janggut dan misai. Ini adalah ciptaan Allah.
Jadi perbuatan menghilangkan janggut dan misai bukan saja bercanggah dengan Syarak bahkan menukar ciptaan Allah. Hal ini ditegah dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, “Allah melaknat orang yang mentatoo, yang minta ditatoo, mencabut alis, … dan golongan yang mengubah ciptaan Allah.” Apa saja yang diancam dengan laknat menunjukkan ia adalah dosa besar dan tidak boleh dipandang ringan.
Kesalahan keempat adalah perbuatan itu bercanggah dengan Sunnah Nabi. Di dalam hadis-hadis sahih Baginda secara jelas menuntut kaum lelaki memanjangkan dan melebatkan janggut serta memendekkan misai.
SEMUA MAZHAB FEKAH SEPAKAT LARANGAN MENCUKUR JANGGUT
Pelik tapi benar, masyarakat mendakwa bahawa mereka mengikut mazhab fekah. Di Malaysia, mereka mengatakan bahawa mereka mengikut mazhab Syafi’i. Pelik tapi benar, semua mazhab-mazhab fekah baik Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali sepakat bahawa mencukur janggut dan misai adalah maksiat. Tidak ada satu mazhab pun yang mengharuskannya.
Kita tertanya-tanya apa alasan mereka melakukan itu, sedangkan mereka mendakwa berpegang dengan mazhab. Hadis Rasulullah jelas, bahkan pendapat mazhab juga jelas. Jadi mereka mengikut siapa? Jelas dakwaan mengikut mazhab adalah dakwaan semata-mata sedangkan hakikatnya mereka terikut-ikut amalan orang-orang kafir.
MENIRU PAKAIAN ORANG KAFIR
Perbuatan meniru orang kafir bukan saja dalam mencukur janggut dan misai, tetapi juga dalam berpakaian, antara contoh mudah adalah memakai tali leher. Ia mungkin sensitif kerana telah menjadi kelaziman dalam masyarakat kita, namun masyarakat perlu juga dijelaskan tentang hal ini.
Jelas bahawa ia adalah kod pakaian dan syiar orang kafir, iaitu Yahudi dan Nasrani. Bahkan tidak ada manfaat pun untuk kita memakainya, kalau bukan hanya menimbulkan rasa tidak selesa.
Sama sekali jangan seorang mengatakan bahawa apa yang penting adalah niat. Jangan sesekali mengatakan pakaian zahir tidak penting, yang penting adalah niat baik. Ini adalah syubhat yang biasa kita dengar. Ini hanya alasan untuk membenarkan kesalahan yang dilakukan.
Kalau benar hati baik, ia akan terzahir pada luaran. Hubungkait zahir dan batin sangat rapat. Ini seperti sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya dalam jasad manusia itu terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan apabila ia rosak maka rosaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah ia adalah jantung (hati).” (Bukhari & Muslim)
Maka kalau benar hati baik, cinta Allah, ikhlas kerana Allah, maka pasti pakaiannya, tingkah lakunya, akhlaknya, pertuturannya, sikapnya juga akan baik.
Syarak menuntut supaya kita menjaga zahir seperti mana Syarak menuntut kita menjaga batin. Adakah seorang yang mengingkari suruhan ALLAH, buruk tingkah laku, mencuri, tetapi dia mengatakan hatinya suci dan bersih? Adakah dakwaan itu boleh diterima? Jawapannya adalah kalau benar hati baik, dia akan menjaga zahirnya seperti mana dia menjaga hatinya.
Perbuatan lalai dan leka dalam menjaga yang zahir, akhirnya akan memberi kesan kepada jiwa, hati, dan niat. Tidaklah suatu amalan itu dizahirkan melainkan ia bermula dari batin. Maka kalau seseorang itu meniru-niru orang kafir, itu menjadi petanda bahawa hatinya sebenarnya lebih cenderung kepada orang kafir –wal’iyyazubillah- berbanding terus berpegang dengan Syariat Islam.
Barangkali ada yang menganggap ini isu remeh. Kita mengatakan bahawa di dalam Syariat Islam tidak ada satu pun benda yang remeh. Buktinya adalah kelima-lima perkara fitrah yang disebutkan dalam hadis di awal tadi.
Barangkali ada yang menganggap remeh perbuatan memanjangkan kuku. Tetapi itu bercanggah dengan Syarak. Tidak ada satu pun yang boleh dianggap remeh kalau ia dituntut dan disebut di dalam Agama.
Disiarkan di akhbar pada Sabtu, 26 Oktober 2013
 sumber :  http://ustazidrissulaiman.wordpress.com/

Selasa, 29 Oktober 2013

10 Fatwa Imam As-Syafie yang perlu kita ambil tahu

Ramai yang mengaku bermazhab Syafi’e dan mengakui mengikuti serta mempraktikkan Islam berdasarkan istinbat hukum oleh imam asy-Syafi’i. Namun, hakikatnya, ramai yang keliru kerana banyak fatwa-fatwa imam asy-Syafi’i yang tidak kita ketahui malah kita mengabaikannya. Padahal semua fatwa-fatwa itu adalah sangat penting dan berkaitan sekitar isu aqidah dan persoalan i’tiqad. Dengan itu, sama-sama lah kita teliti semula beberapa fatwa-fatwa beliau tersebut dan sama-sama kita muhasabah diri.

Fatwa-fatwa ini hanyalah sebahagian kecil dari sejumlah fatwa atau pendapat imam asy-Syafi’i sahaja. Ianya diambil daripada buku/kitab berjudul “Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah”, karya/susunan Dr. Muhammad bin Abdil-Wahab al-’Aqil.

Sama-sama kita teliti,

1 – MERATAKAN KUBURAN

Imam asy-Syafi’e rahimahullah menyatakan:

“Saya suka kalau tanah kuburan itu tidak ditinggikan dan selainnya dan tidak mengambil padanya dan tanah yang lain. Tidak boleh, apabila ditambah tanah dan lainnya menjadi tinggi sekali, dan tidak mengapa jika ditambah sedikit saja sekitar. Saya hanya menyukai ditinggikan (kuburan) di atas tanah satu jengkal atau sekitar itu dari permukaan tanah”. (Syarah Muslim 2/666, Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/257)


2 – HUKUM MEMBANGUNKAN BANGUNAN/BINAAN DI KUBURAN

“Saya suka bila (kuburan) tidak dibuat binaan dan bangunan, kerana itu menyerupai penghiasan dan kesombongan, dan kematian bukan tempat bagi salah satu dari keduanya. Dan saya tidak melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar didirikan sebarang binaan. Seorang perawi menyatakan dari Thawus, bahawa Rasulullah s.a.w. telah melarang kuburan dibinakan binaan atau ditembok. Saya sendiri melihat sebahagian penguasa di Makkah menghancurkan semua bangunan di atasnya (kuburan), dan saya tidak melihat para ahli fikih mencela hal tersebut. (al-Umm 1/277. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/258)

3 – HUKUM MEMBINA MASJID DI TEMPAT YANG ADA KUBUR

“Saya melarang dibinakan masjid di atas kuburan dan disejajarkan atau dipergunakan untuk solat di atasnya dalam keadaan tidak rata atau solat menghadap kuburan. Apabila ia solat menghadap kuburan, maka masih sah namun telah berbuat dosa”. (al-Umm 1/278. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/261)

4 – PERSOALAN FITNAH KUBUR

“Sesungguhnya Azab kubur itu benar dan pertanyaan malaikat terhadap ahli kubur adalah benar.” (al-I’tiqad karya Imam al-Baihaqiy. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/420)

5 – PERSOALAN HISAB, SYURGA, DAN NERAKA

“Hari kebangkitan adalah benar, hisab adalah benar, syurga dan neraka serta selainnya yang sudah dijelaskan dalam sunnah-sunnah (hadis-hadis), lalu ada pada lisan-lisan para ulama dan pengikut mereka di negara-negara muslimin adalah benar.” (Manaqib asy-Syafi’i, karya Imam al-Baihaqiy, 1/415. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/426)

6 – BERSUMPAH DENGAN NAMA SELAIN NAMA ALLAH

“Semua orang yang bersumpah dengan nama selain Allah, maka saya melarangnya dan mengkhuwatirkan pelakunya, sehingga sumpahnya itu adalah kemaksiatan. Saya juga membenci bersumpah dengan nama Allah dalam semua keadaan, kecuali hal itu adalah ketaatan kepada Allah, seperti berbai’at untuk berjihad dan yang serupa dengannya.” (al-Umm 7/61. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/271)

7 – PERNYATAAN TENTANG SYAFA’AT

“Beliau (Rasulullah s.a.w.) adalah manusia terbaik yang dipilih Allah untuk menyampaikan wahyu-Nya lagi terpilih sebagai Rasul-Nya dan yang diutamakan atas seluruh makhluk dengan membuka rahmat-Nya, penutup kenabian, dan lebih menyeluruh dan ajaran para rasul sebelumnya. Beliau ditinggikan namanya di dunia dan menjadi pemberi syafa’at, yang syafa’atnya dikabulkan di akhirat.” (ar-Risalah 12-13. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/291)

Beliau juga menyatakan tentang syarat diterimanya syafa’at:

“Semalam saya mengambil faidah (istimbath) dari dua ayat yang membuat saya tidak tertarik kepada dunia dan yang sebelumnya. Firman Allah: “...Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya....” (Surah Yunus, 1O: 3). Dan dalam kitabullah, hal ini banyak: “Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (Surah al-Baqarah, 2: 256) Syafa’at tertolak kecuali dengan izin Allah.” (Ahkamul Qur’an 2/180-181. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 1/291)

8 – PENDIRIAN BERKENAAN ASMA’ WA SIFAT ALLAH

Imam Syafi’e rahimahullah menjelaskan melalui riwayat yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Talib radiallahu ‘anhu:

"Bagi-Nya dua tangan sebagaimana firman-Nya: (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka. Bagi-Nya tangan sebagaimana firman-Nya: Langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Allah mempunyai wajah sebagaimana firman-Nya: Setiap sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya. Baginya kaki sebagaimana sabda Nabi saw: Sehinggalah Dia meletakkan wajah dan KakiNya. Dia mempunyai jari sebagaimana sabda Nabi sallallahu 'alaihi wa-sallam: Tiadalah hati itu kecuali antara jari-jari dari jari-jari Ar-Rahman (Allah). Kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikan dari menyerupakan sebagaimana dinafikan sendiri oleh Allah sebagaimana difirmankan: (Tiada sesuatu yang semisal dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat)". (Lihat: I’tiqad Aimmah al-Arba'ah Abi Hanifah wa Malik wa Syafi’e wa Ahmad, m/s. 46- 47, Cetakan pertama, 1412 -1992M. Darul 'Asimah Saudi Arabia)

Imam Syafi’e seterusnya menjelaskan:

"Dan Allah Ta'ala di atas 'Arasy-Nya (Dan 'Arasy-Nya) di langit”. (Lihat: I’tiqad Aimmah al-Arba'ah, Abi Hanifah, Malik, Syafie wa Ahmad, m/s. 40)

Imam Syafi’e seterusnya menjelaskan lagi:

"Kita menetapkan sifat-sifat (mengithbatkan sifat-sifat Allah) sebagaimana yang didatangkan oleh al-Quran dan yang warid tentangNya dari sunnah, kami menafikan tasybih (penyerupaan) tentangNya kerana dinafikan oleh diriNya sendiri sebagaimana firmanNya (Tiada sesuatu yang semisal denganNya)". (Lihat: I’tiqad Aimmah al-Arba'ah, Abi Hanifah, Malik, Syafie wa Ahmad, m/s. 42)

Imam Syafi’e telah menjelaskan juga tentang turun naiknya Allah Subhanahu wa-Ta’ala:

"Sesungguhnya Dia turun setiap malam ke langit dunia (sebagaimana) menurut khabar dari Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam". (Lihat: I’tiqad Aimmah al-Arba'ah, Abi Hanifah, Malik, Syafie wa Ahmad, m/s. 47)

Berkata Imam Syafi’e rahimahullah:

"Sesungguhnya Allah di atas ‘Arasy-Nya dan ‘Arasy-Nya di atas langit" (Lihat: Iktiqad Aimmah al-Arba'ah, Abi Hanifah, Malik, Syafie wa- Ahmad. Hlm. 179)

Ibnu Taimiyah, Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Syafi’e ada kesepakatannya dalam meyakini tentang turun-naiknya Allah iaitu berlandaskan hadis:

"Tuhan kita turun ke langit dunia pada setiap malam apabila sampai ke satu pertiga dari akhir malam, maka Ia berfirman: Sesiapa yang berdoa akan Aku perkenankan, sesiapa yang meminta akan Aku tunaikan dan sesiapa yang meminta keampunan akan Aku ampunkan". (H/R Bukhari (1141), Muslim (758), Abu Daud (4733), Turmizi (4393), Ibn Majah (1366) dan Ahmad (1/346))

9 – SIKAP IMAM ASY-SYAFI’E TERHADAP SYI’AH

Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek! (terhodoh)”. (al-Manaqib, karya al-Baihaqiy, 1/468. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

“Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari Syi’ah Rafidhah.” (Adabus Syafi’i, m/s. 187, al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan Sunan al-Kubra, 10/208. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

“asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, kerana Allah menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami”. (Surah al-Hasyr, 59: 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bahagian fa’i).” (at-Thabaqat, 2/117. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/487)

10 – SIKAP IMAM ASY-SYAFI’E TERHADAP KAUM (ORANG-ORANG) SUFI

“Seandainya seorang menjadi sufi (bertasawwuf) di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zuhur, engkau tidak dapati ia, melainkan telah menjadi orang bodoh.” (al-Manaqib lil Baihaqiy, 2/207. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/503)

“Tidaklah seorang sufi menjadi sufi, hingga memiliki empat sifat: malas, suka makan, sering merasa sial, dan banyak berbuat sia-sia.” (Manaqib lil Baihaqiy, 2/207. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/504)

“Asas tasawwuf adalah kemalasan.” (al-Hilyah 9/136-137. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/504)

Sumber : abu naila in blogspot
Edited by : AltafDarwish

Khamis, 24 Oktober 2013

KENYATAAN RESMI TENTANG
PENOLONG PENDAFTAR NIKAH
KARIAH MASJID AL-MUTTAQIN TAMAN EQUINE / BANDAR PUTRA PERMAI.

Bismillah... insyaallah mulai 1 january 2014 akan datang saya dengan resminya telah meletakkan semua jawatan saya sebagai Penolong Pendaftar Nikah bagi kariah ini.

Sehubungan dengan itu saya mohon kepada semua anak kariah sila rujuk terus permohonan anda ke Pejabat Agama islam Daerah Petaling bagi maksud permohonan dan surat kebenaran berkahwin.

kesulitan anda amat saya kesali. sekian di maklumkan.

Tegar Sunnah: Lembu Sembelih Korban Bangun Semula

Ustaz Tegar Sembelihan Korban